Al-Basri berkata, “Ketahuilah,
sesungguhnya tafakkur Itu mengajak
pelakunya kepada kebaikan dan
mengamalkannya. Menyesali kejahatan Itu
membuat pelakunya meninggalkannya.
Apa yang telah hilang – kendati sangat
banyak-tidak bisa dibandingkan dengan
apa
yang masih ada, kendati mencarinya
adalah sesuatu yang mulia. Bersabar
terhadap kelelahan sebentar yang
menghasilkan istirahat lama itu lebih baik ,
daripada penyegeraann istirahat sebentar
yang menghasilkan kelelahan abadi.
Waspadalah terhadap dunia yang menipu,
berikhianat, dan memperdaya. ia berhias
dengan tipuannya, berdandan dengan
muslihatnya, membunuh manusia dengan
mimpi-mimpinya, dan membuat ridu para
pelamarnya, hingga Ia menjadi seperti
pengantin yang menjadi pusat perhatian.
Semua mata melihat kepadanva.
Semua hati rindu kepadanva. dan semua
jiwanva tertarik kepadanya. Ia menjadi
pembunuh bagi semua suami- suaminya.
Tragisnya orang yang masih hidup tidak
mau belajar dari orang yang telah
meninggal dunia, generasi terakhir tidak
mengambil pelajaran dari generasi pertama,
orang bijak tidak mendapatkan manfaat
dari banyaknya
pengalaman, dan orang yang kenal Allah
dan beriman kepada-Nya tidak ingat
ketika la diberi penjelasan tentang dunia.
Akibatnya, hati manusia mencintai dunia
dan jiwa mereka kikir dengannya. Ini
semua tidak lain bentuk kerinduan kita
kepada dunia, karena barangsiapa
merindukan sesuatu, Ia tidak memikirkan
yang lain. Ia mati ketika memburunya
atau berhasil mendapatkannya. Kedua
orang tersebut adalah perindu dan pemburu
dunia.
Perindu dunia telah sukses mendapatkan
dunia dan tertipu dengannya. Dengan
dunia, Ia lupa akan prinsip dan hari
akhirat. Hatinya disibukkan oleh dunia.
Hatinya dibuat larut oleh dunia, hingga
kakinya tergelincir di dalamnya, dan
kematian datang kepadanya dengan sangat
cepat daripada sebelumnya. Ketika itu,
penyesalanya pun menggelembung,
kesedihannya membesar, terkumpul padanya
sakaratul maut dan rasa sakitnya dengan
sedih kehilangan dunia.
Sedang orang kedua meninggal sebelum
berhasil memenuhi kebutuhannya. Ia pergi
dari dunia dalam keadaan terpukul
hatinya, tidak mendapatkan apa yang
dicarinya
dan jiwanya tidak bisa istirahat, dari
kelelahan. Ia keluar dari dunia tanpa bekal
dan tiba tanpa membawa oleh-oleh. Oleh
karena itu, waspadalah secara penuh
terhadap dunia, karena dunia itu tak
ubahnya seperti ular; kulitnya halus, namun
racunnya mematikan.
Berpalinglah dari apa saja di dunia ini
yang menarik hatimu, kanena jarang sekali
sesuatu yang ada di dunia ini yang
menemanimu. Buanglah seluruh ambisi
kepada dunia dari dalam hatimu, karena
engkau mengetahui dunia itu menyakitkan
dan engkau yakin akan berpisah dengannya.
Oleh karena itu, waspadalah wahai
Amirul Mukminin. Karena sesungguhnya
pemilik dunia, setiap kali ia senang
kepadanya maka itu berubah menjadi
kebencian.
Orang yang gembira di dunia ialah orang
yang tertipu, orang yang bermanfaat di
dalamnya kelak menjadi orang yang
merugi, kemakmuran di dalamnya diberikan
bercampur dengan cobaan, dan keabadian
di dalamnya berubah menjadi fana.
Kebahagiaan di dalamnya bercampur
dengan kesedihan, dan akhir kehidupan di
dalamnya adalah lemah dan tidak berdaya.
Oleh karena itu, lihatlah dunia seperti
penglihatan orang zuhud yang hendak
meninggalkannya, dan jangan melihat
dunia seperti penglihatan perindu yang
jatuh cinta.
Ketahuilah, bahwa dunia itu
menghilangkan tamu yang telah menetap,
dan menyakitkan orang tertipu yang
merasa aman. Apa yang telah berlalu dari
dunia tidak akan kembali lagi, dan apa
yang akan datang tidak bisa diketahui, apa
lagi ditunggu.!
Waspadalah terhadap dunia, karena
mimpi-mimpinya dusta belaka, khayalan-
khaya
lannya batil kehidupannya melelahkan, dan
kejernihannya adalah keruh. Engkau
terancam mendapatkan dua hal di dunia
ini; nikmat yang akansirna, dan cobaan
yang akan datang, atau musibah yang
menyakitkan, dan kematian yang memutus
segala-galanya.
Sungguh, dunia itu melelahkan seseorang,
jika ia mau berpikir. Ia berada dalam
nikmat yang membahayakan, takut terhadap
musibah-musibah yang ada di dalamnya,
dan meyakini kematian. Seandainya Allah
Yang Maha pencipta tidak menyampaikan
berita tentang dunia, dan tidak memberi
perumpamaan tentang dunia, dan tidak
memerintahkan manusia bersikap zuhud di
dalamnya, pasti dunia membangunkan
orang yang tidur, dan mengingatkan orang
yang lupa diri!
Bagaimana tidak, padahal telah datang
pelarang dari Allah Azza wa Jalla dan
banyak sekali penasihat di dalamnya?
Dunia di sisi Allah Azza wa Jalla tidak
ada bobot dan nilainya. Berat dunia di
sisi Allah Ta’ ala tidak seberat satu
kerikil, dan tidak sebesar satu bintang di
antara gugusan bintang yang ada. Allah
tidak menciptakan makhluk yang Lebih Dia
benci dari pada dunia –seperti di
sampaikan kepadaku- dan Dia tidak
melihat
kepada-nya sejak Dia menciptaknnya
karena benci kepadanya.
Sungguh dunia dengan kunci-kuncinya
dan semua simpanannya yang nilainya di
sisi
Allah Lebih ringan dari sayap lalat ,
pernah diperlihatkan kepada Nabi kita,
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam, namun beliau menolak
menerimanya, karena
beliau telah mengetahui bahwa jlka Allah
membenci sesuatu, beliau harus
membencinya. Jika Allah mengkerdilkan
sesuatu, beliau harus mengkerdilkannya.
Dan jika Allah
merendahkan sesuatu, beliau harus
merendahkannya.
Jika beliau menerima dunia tersebut, maka
bukti kecintaan beliau kepada dunia
tersebut ialah penerimaan beliau terhadap
tawaran dalam bentuk dunia tersebut.
Namun beliau menolak mencintai sesuatu
yang dibenci Allah, dan mengangkat apa
yang direndahkan Pemiliknya.
Jika Allah Ta’ala tidak menunjukkan
tentang rendahnya nilai dunia kepada
beliau,
namun Dia memandang rendah dunia
tersebut dengan menjadikan kebaikannya
sebagai
pahala bagi orang-orang yang taat, dan
menjadikan hukuman dunia sebagai siksa
bagi orang-orang yang bermaksiat.
Kemudian Allah mengeluarkan pahala taat
dari
dunia tersebut, dan mengeluarkan hukuman
maksiat daripadanya.
Di antara hal menunjukkan kepada dunia
tentang keburukan dunia ini, bahwa Allah
Ta’ala menjauhkan dunia dari orang-
orang yang shalih dengan suka rela dan
membentangkannya kepada musuh-musuh-
Nya dengan tujuan menipunya.
Orang yang tertipu dengan dunia dan
tergoda dengannya menyangka bahwa ia
dimuliakan Allah Ta’ala dengan dunia
tersebut. Ia lupa terhadap apa yang
diperbuat
Allah terhadap Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam dan Nabi Musa
‘Alaihis Salam.
Adapun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam, beliau mengikatkan batu
diperutnya karena sakinglaparnya.
Adapun Nabi Musa ‘Alaihis Salam, beliau
tidak meminta sesuatu kepada Allah Ta‘ala
pada saat ia berteduh di bawah pohon,
selain makanan yang bisa beliau makan
untuk menghilangkan kelaparannya.
Sungguh banyak sekali riwayat-riwayat
dan Nabi Musa ‘Alaihis Salam, bahwa
Allah Ta’ala mewahyukan kepada beliau ,
Hai Musa, jika engkau melihat kemiskinan
datang kepadamu, katakan, ‘Selamat
datang simbol orang-orang shalih.’ Jika
engkau melihat
kekayaan datang kepadamu, katakan, ‘ini
adalah dosa yang hukumannya dipercepat.’
Jika engkau mau, aku ketengahkan Nabi
Isa ‘alaihis salam kepada baginda, karena
ia amat menakjubkan. Ia berkata, “Lauk-
ku adalah lapar, Syi’arku ialah takut,
Pakaianku ialah wol., Hewan
kendaraanku ialah kedua kakiku. Lampuku
di malam hari ialah bulan. Bahan bakarku
di musim dingin ialah matahari. Buah -
buahanku dan penghidupanku ialah apa
yang ditumbuhkan bumi untuk binatang buas
dan hewan ternak. Aku tidur dalam
keadaan tidak memiliki apa-apa dan tidak
ada seorang pun yang lebih kaya dariku”.
Jika engkau mau, aku ketengahkan contoh
keempat, yaitu Nabi Sulaiman bin Daud
Alaihimas Salam, karena ia tidak kalah
menakjubkan. Ia makan roti dan gandum,
memberi roti coklat kepada keluarganya,
dan tepung putih kepada rakyatnya.
Jika malam telah tiba, ia memakai baju
dari tenunan kasar, dari tangannya ke
lehernya Ia semalaman menangis hingga
pagi hari. Ia makan makanan yang kasar,
dan mengenakan pakaian kasar. Kendati
Itu semua, mereka membenci apa saja yang
dibenci Allah Ta’ala, memandang kecil apa
yang dipandang kecil oleh Allah Ta’ala,
dan bersikap zuhud di dalam hal-hal yang
Allah bersikap zuhud di dalamnya.
Kemudian orang-orang shalih meniti jalan
mereka, menapaktilasi jalan mereka,
mengharuskan dirinya berlelah- lelah, dan
memahami lbrah, serta merenung diri.
Mereka bersabar di dunia yang singkat ini
dari kenikmatan yang menipu yang berakhir
kepada kemusnahan. Mereka melihat
kepada akhir dunia, dan tidak melihat
kepada permulaannya. Mereka melihat
kepada hasil akhir dunia yang pahit, dan
tdak melihat rasa manis yang hanya terasa
pada awal-awalnya saja.
Mereka mengharuskan dirinya bersabar
dan menempatkan diri mereka seperti
mayit-mayit yang tidak boleh kenyang di
dunia, kecuali pada saat yang dibutuhkan.
Mereka makan sebatas untuk menguatkan
jiwa, dan ruh. Mereka menempatkan diri
mereka seperti bangkai yang telah
membusuk, hingga membuat siapa saja yang
melewatinya, pasti Ia menutup hidungnya.
Mereka tidak meraih dunia hingga sampai
tahap merugikannya, dan tidak sampai
kenyang yang berbau busuk.
Dunia dijauhkan dari mereka. Itulah
kedudukan dunia dalam jiwa mereka.
Mereka
merasa heran terhadap orang yang
memakan dunia hingga kekenyangan, dan
bersenang-senang dengannya hingga rakus.
Mereka berkata, Tidakkah kalian lihat
bahwa mereka tidak takut makan?
Tidakkah mereka mendapatkan bau
busuknya?
Saudaraku, demi Allah sesungguhnya bau
dunia sekarang atau esok itu lebih busuk
daripada bangkai. Hanya saja manusia
meminta sabar dengan segera. Akibatnya,
mereka tidak bisa mencium bau busuk.
Mereka tidak bisa mencium bau bau yang
ada
di kulit yang membusuk yang mengganggu
para pejalan kaki, dan orang-orang yang
duduk di dekatnya.
Cukuplah dunia bagi orang yang berakal,
bahwa barangsiapa meninggal dunia
dengan meninggalkan harta yang banyak,
Ia sangat berkeinginan seandainya dulu
ia menjadi orang miskin di dunia, atau
orang mulia, atau orang buangan, atau
orang selamat. Ia lebih senang seandainya
di dunia dulu ia menjadi orang yang
menderita, atau rakyat biasa.
Jika engkau meninggalkan dunia ini, pasti
engkau lebih senang seandainya engkau
di dunia ini menjadi orang yang paling
rendah kedudukannya, dan orang yang
paling miskin. Bukankah ini cukup
dijadikan bukti bahwa dunia itu sangat
hina
bagi orang yang memikirkannya?
Demi Allah, jika seseorang mengharapkan
sesuatu dari dunia ini melainkan ia
mendapati dunia tersebut berada di
sampingnya tanpa ia kejar dan merasakan
kelelahan. Namun jika Ia telah
mendapatkan sesuatu dari dunia tensebut,
ia mempunyai hak-hak Allah di dalamnya,
dan ia akan ditanya tentang dunia
tersebut, serta ia akan dihisab karenanya
Jika demikian permasalahannya, maka
seyogyanya orang berakal itu tidak
mengambil sesuatu dari dunia, kecuali
sebesar porsi makanannya dan
kebutuhannya, karena khawatir akan
ditanya tentang dunia tersebut, dan takut
akan dahsyatnya hisab terhadap dirinya.
Sesungguhnya dunia itu jika engkau
memikirkannya, tidak lebih dari tiga hari:
hari kemarin yang tidak bisa engkau
harapkan lagi, hari yang engkau berada
didalamnya yang harus engkau manfaatkan
sebaik mungkin, dan hari esok yang engkau
tidak tahu apakah engkau berada di hari
tersebut atau tidak? Engkau tidak tahu
siapa tahu engkau meninggal dunia esok
pagi.
Adapun kemarin, ia ibarat orang bijak
yang pandai mendidik. Adapun hari ini, ia
ibarat teman yang akan mengucapkan
selamat berpisah. Namun, kendati kemarin
telah membuatmu sakit, engkau telah
menggenggam hikmah. Jika engkau telah
menyia-nyiakannya, engkau mendapatkan
ganti. Tadinya kemarin tersebut tidak ada
pada dirimu, namun sekarang ia cepat
pergi darimu.
Adapun esok hari, engkau masih
mempunyai secercah harapan. Oleh karena
itu,
berbuatlah, dan jangan tertipu oleh mimpi-
mimpi sebelum ajal tiba. Engkau jangan
memasukkan kesedihan esok dan esok lusa
ke dalam hari ini, karena hal tersebut
hanya akan menambah kesedihanmu dan
kelelahanmu, serta engkau kumpulkan pada
hari ini sesuatu yang menyempurnakan
hari-harimu. Itu hal yang mustahil,
karena kesibukan Itu sangat padat,
kesedihan Itu semakin bertambah, kelelahan
itu semakin besar, dan seseorang membuang
amal dengan impian kosong.
Seandainya harapan esok pagi keluar dari
hatimu, engkau telah berbuat dengan
baik pada hari ini, dan telah mengurangi
kesedihanmu pada hari ini. Namun
harapanmu terhadap esok pagi itu
membuatmu bersikap tidak serius,dan
membuatmu menjadi orang yang banyak
menuntut.
Jika engkau ingin kata-kata singkat, aku
pasti mendiskripsikan untukmu tentang
dunia di antara dua jam; satu jam yang
telah berlalu, satu jam yang akan datang,
dan satu jam yang engkau sedang berada dl
dalamnya.
Adapun satu jam yang telah berlalu dan
telah lewat. maka engkau tidak
mendapatkan kelezatan di istirahat
keduanya dan merasakan sakit terhadap
musibah keduanya. Sesungguhnya dunia
ialah saat yang engkau sedang berada di
dalamnya. Satu jam tersebut menipumu
dari surga dan menggiringmu ke neraka.
Adapun hari ini -jika engkau
memikirkannya- adalah ibarat tamu yang
singgah kepadamu dan akan pergi darimu.
Jika engkau menjamu dan melayaninya
dengan baik, Ia menjadi saksi bagimu,
memujimu, dan membenarkanmu di
dalamnya. Jika engkau menjamunya
dengan buruk, Ia berputar di kedua
matamu.
Kedua hari tersebut adalah ibarat dua
saudara. Salah seorang daripadanya
bertamu kepadamu, kemudian engkau
bersikap buruk terhadapnya, dan tidak
menjamunya dengan baik. Sesudah orang
tersebut pergi darimu, datanglah orang
satunya, kemudian berkata kepadamu, Aku
datang kepadamu setelah kepergian
saudaraku.
Jika engkau berbuat baik kepadaku,
perbuatan baikmu ini akan menghapus
perbuatan burukmu kepada suadaraku
sebelum ini dan memaafkan apa yang telah
engkau perbuat terhadapnya. Hati-hatilah
engkau, jika aku berkunjung kepadamu dan
aku datang kepadamu setelah kepergian
saudaraku darimu. Sungguh, engkau telah
beruntung mendapatkan pengganti jika
engkau mau berfikir.Periksalah apa yang
telah engkau sia-siakan!.
Jika engkau menyamakan orang kedua
seperti orang pertama, maka alangkah
pantasnya engkau binasa karena kesaksian
dua orang tersebut terhadap dirimu!.
Sesungguhnya sisa umur itu tidak ada
nilainya. Seandainya semua dunia
dikumpulkan, maka dunia tidak lebih dari
satu hari dalam umur seseorang.
Jangan sekali-kali mayat di kuburan itu
lebih bisa menghargai sesuatu yang ada
di tanganmu daripada engkau sendiri.
padahal sesuatu tersebut milikmu. Demi
Allah. jika dikatakan kepada mayat di
kuburan. ‘Inilah dunia itu dan awal hingga
akhir. Engkau memberikannya kepada
anak-anakmu kemudian mereka
bersenang-senang dengannya
sepeninggalmu. Engkau lebih mencintai
mereka ataukah lebih mencintai hari di
mana engkau dibiarkan beramal untuk
dirimu? Pasti ia memilih pilihan kedua..
Bahkan, seandainya ia disuruh memilih
satu jam dengan waktu berjam-jam milik
orang lain seperti telah aku jelaskan
kepadamu, pasti ia lebih memilih waktu
satu jam tersebut untuk dirinya.
Bahkan lagi, jika ia disuruh memilih
antara satu kata yang mendapatkan pahala
dengan hal-hal lain seperti telah aku
jelaskan kepadamu, pasti ia lebih menyukai
satu kata tersebut.
Periksalah dirimu hari ini! Lihatlah
waktu! Agungkanlah kata! Hati-hatilah
terhadap kerugian ketika Hari Kiamat
telah tiba! Semoga Allah menjadikan
nasihat ini bermanfaat bagiku dan bagimu.
Semoga Allah memberi kita hasil yang
baik.
Kamis, 01 Mei 2014
Surat Sasan Al Bashri kepada Umar bin Abdul Aziz
Ghibah
Waspadai Penggunjing
Saat Imam Hasan Al-Basri memberikan
wejangan kepada para santrinya. Tiba-
tiba ada salah satu orang yang hadir
mengangkat tangan dan berkata, "wahai
Imam, kami ingin menyampaikan satu hal
jika diperkenankan". Dijawab oleh Imam
Hasan Basri "silakan !"
Kemudian orang tersebut bercerita "wahai
Imam, aku sangat mengagumi majlismu,
sungguh ini adalah majlis yang sangat
berwibawa dan penuh kesejukan. Akan
tetapi kenapa ada ditempat jauh disana ada
seorang guru yang selalu menyebut Imam
Hasan Al-Basri dengan sebutan yang
tidak pantas dan menjelek-jelekkan Imam
Hasan Al-Basri."
Sebelum orang tersebut selesai berbicara
Imam Hasan Basri telah memotong
pembicaraanya dan berkata, "hentikan
wahai tamuku pembicaraanmu! sekarang
dengarlah omonganku! Orang yang engkau
sebut itu aku sangat mengenalnya, karna
dia adalah salah satu sahabatku. Adapun
yang kau sampaikan kepadaku bahwa dia
selalu membicarakan kejelekanku maka
ketauilah!jika engkau berbohong dengan
omonganmu itu maka engkau harus di
cambuk, sebab engkau telah berdusta"
Seketika orang tersebut menyambut dan
berkata. "wahai Imam, sungguh aku tidak
bedusta karena aku mendengarnya
langsung." Kemudian Imam Hasan Basri
melanjutkan pembicaraanya, "dan jika apa
yang engkau sampaikan itu adalah benar
maka engkau juga harus di cambuk karena
engkau telah menggunjing dan mengadu-
domba antara aku dengan temanku itu,
kira-kira kamu pilih yang mana?"
Mendengar ungkapan Imam Hasan Al-
Basri ini orang tersebut merasa malu dan
akhirnya permisi dan bergegas
meninggalkan majlisnya Imam Hasan
Basri.
Sebuah kecerdasan hati memancar dari
diri sang imam. Hati yang tanggap
terhadap penyakit yang dihembuskan oleh
otak-otak kotor dan hati-hati yang tidak
terdidik. Menyebut kejelekan orang lain
adalah antara menggunjing dan berdusta.
Jika benar yang di bicarakan itulah hakekat
menggunjing dan jika tidak benar itulah
berdusta.
Dan zaman kita bukanlah zaman yang lebih
baik dari zamanya Imam Hasan Al-
Basri. Artinya, kita di tuntut untuk lebih
ketat dalam menjaga hati kita agar tidak
terjangkit penyakit kebencian kepada
sesama yang di hembuskan bersama
gunjingan yang kita dengar. Kita harus
pandai menghentikan usaha orang-orang
terlena dalam menghancurkan keindahan
kita dalam bermasyarakat.
Sungguh menggunjing adalah adalah
pekerjaan yang membawa dosa yang amat
besar. Jika kita tahu betapa besar dosanya
berzina dan betapa busuk dan menjijikkanya
ia. Akan tetapi sungguh kebusukan dan
kekejian zina masih terkalahkan oleh
menggunjing. Orang tidak berzina kecuali
di tempat tertentu. Akan tetapi yang
namanya menggunjing, sungguh medanya
teramat luas. Kerlingan mata dan batuk
yang dibuat-buatpun bisa mengandung
makna gunjingan. Bahkan seorang yang
lagi duduk di tengah mesjid atau seorang
ustad yang lagi berceramah diatas
mimbarpun bisa menggunjing.
Orang sering terlena dengan menggunjing.
Terbawa dalam sebuah perbincangan yang
panjang lebar tiba-tiba tanpa disadari ia
telah berada di tengah tengah lautan
gunjingan. Bahkan ada yang menggunjing
sudah mendarah-daging didalam dirinya
hingga ia tidak sadar jika setiap gerak dan
ucapanya selalu memberi arti gunjingan.
Yang selamat adalah yang waspada, Imam
Hasab Al-Basri adalah suri tauladan
kita. Cermati semua orang yang berbicara
dengan Anda. Jika yang di bicarakan
adalah kejelekan sahabat Anda atau yang
lainya. Maka ketauhilah itu adalah
gunjingan. Dan sadarilah bahwa di balik
pembicraan itu adalah racun yang ditabur
di hati Anda. Tanpa Anda sadari setelah
itu Anda akan berprasangka buruk kepada
orang yang Anda dengar ceritanya. Dan
bisa jadi yang semula Anda hanya menjadi
pendengar di suatu saat Anda telah berubah
menjadi penggunjing. Semoga Allah
menjauhkan kita dari digunjing dan
menggunjing.
Nasihat tabiin
Kata mutiara 1
“Wahai anak Adam! Kalian tidak lain
hanyalah kumpulan hari , setiap satu hari
berlalu maka sebagian dari diri kalian pun
ikut pergi.”
Kata mutiara 2
“Diantara tanda berpalingnya Allah
Subhanahu Wata’ala dari seorang hamba
adalah Allah menjadikan kesibukannya pada
hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.”
Kata mutiara 3
“Semoga Allah merahmati seorang hamba
yang merenung sejenak sebelum melakukan
suatu amalan . Jika niatnya adalah karena
Allah, maka ia melakukannya. Tapi jika
niatnya bukan karena Allah maka ia
mengurungkannya.”
Kata mutiara 4
“Tidaklah datang suatu hari dari hari-hari
di dunia ini melainkan ia berkata, “Wahai
manusia! Sesungguhnya aku adalah hari
yang baru, dan sesungguhnya aku akan
menjadi saksi (di hadapan Allah) atas apa-
apa yang kalian lakukan padaku. Apabila
matahari telah terbenam, maka aku akan
pergi meninggalkan kalian dan takkan pernah
kembali lagi hingga hari kiamat.”
Kata mutiara 5
“Janganlah Anda tertipu dengan banyaknya
amal ibadah yang telah Anda lakukan,
karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui
apakah Allah menerima amalan Anda atau
tidak.”
Kata mutiara 6
“Jangan pula Anda merasa aman dari
bahaya dosa-dosa yang Anda lakukan,
karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui
apakah Allah mengampuni dosa-dosa Anda
tersebut atau tidak.”
Kata mutiara 7
“Saya belum menemukan dalam ibadah,
sesuatu yang lebih sulit dari pada shalat di
tengah malam .”
Kata mutiara 8
“Seorang mukmin hidup di dunia bagaikan
seorang tawanan yang sedang berusaha
membebaskan dirinya dari penawanan dan ia
tidak akan merasa aman kecuali apabila ia
telah berjumpa dengan Allah Subhanahu
wata’ala. “
Kata mutiara 9
“Sesungguhnya Allah telah menetapkan
kematian, sakit dan sehat (bagi setiap
hamba-Nya). Barang siapa mendustakan
takdir maka sesungguhnya ia telah
mendustakan al-Qur’an . Dan barang siapa
mendustakan al-Qur’an, maka sesungguhnya
ia telah mendustakan Allah.”
Kata mutiara 10
“Wahai anak Adam, jual lah duniamu untuk
akhiratmu , niscaya kamu untung di
keduanya, dan janganlah kamu jual
akhiratmu untuk duniamu, karena kamu akan
rugi di keduanya. Singgah di dunia ini
sebentar, sedangkan tinggal di akhirat sana
sangatlah panjang.”
Seorang pemuda mendatangi al-Hasan al-
Bashri dan mengadukan masalah yang
sedang ia hadapi kepadanya. Pemuda
tersebut berkata, “Saya telah berusaha untuk
bisa menjaga shalat malam, akan tetapi
sampai saat ini saya masih belum mampu
untuk melaksanakannya.” Al-Hasan al-
Bashri menjawab, “Dosa-dosamu telah
menghalangimu untuk melakukannya.”
Demikianlah, beberapa kalimat penuh
hikmah, mutiara islam, dari salah seorang
ulama salaf yang patut kita teladani.
Kamis, 16 Januari 2014
Dakwah Jihad Yang Besar
Kelebihan umat Rasul SAW
Fikir Rasulullah
Bagaimana Jika dakwah ditinggalkan
Agama Wujud Apabila Kita Korban
Ayat-Ayat Tentang Iman dan Amal Shaleh
Minggu, 15 September 2013
Seruan Kepada Kaum Muslim
Ketahuilah wahai saudaraku, Islam adalah agama yang sangat sempurna, Islam tidaklah terbatas pada tuntunan agar kita sukses di akhirat, tetapi juga petunjuk sukses di dunia. Islam bukanlah agama ritual yang hanya mengatur ibadah mahdhah individu, tetapi ia pun adalah agama sosial yang mengatur masyarakat. Islam adalah satu-satunya agama sekaligus pandangan hidup (ideologi) bagi ummatnya. Islam adalah satu-satunya agama yang memiliki mu’jizat hingga saat ini: al-Qur’an, yang tantangannya belum pernah ada yang menjawabnya hingga detik tulisan ini dibaca. Dan tak akan pernah bisa.
Padahal kita ingat dahulu kala Rasulullah menerapkan Islam di Madinah pada tahun 623 M yang bisa bertahan sampai tahun 1924 M dengan segala keluarbiasaannya, Sejarah tidak bisa berbohong bahwa abad keemasan umat muslim (Islamic golden age) pada saat kekhilafahan abbasiyyah dan awal kekhilafahan utsmaniyyah (750 M – 1500 M) telah menyatukan lebih dari 1/3 dunia, kekuasaan membentang dari sebagian eropa (andalusia/spanyol) hingga dataran balkan yang kekuatan laut maupun daratnya ditakuti di dunia. Dunia mengingat nama Muhammad al-Fatih (Muhammad II the Conqueror) pemimpin para pemuda yang kala itu berusia belum genap 23 tahun pada tahun 1452 M menaklukkan Konstantinopel (Byzantium) yang kala itu merupakan negara adidaya.
Pada pendidikan pun tak kalah hebatnya Imam Ad Damsyiqi telah menceritakan sebuah riwayat dari Al Wadliyah bin Atha yang menyatakan bahwa di kota Madinah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak. Khalifah Umar bin Khatthab memberikan gaji pada mereka masing-masing sebesar 15 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas) (sekitar 5 juta rupiah dengan kurs sekarang). Atau pada masa Khalifah Harun al-Rasyid dimana tidak ada warga negara yang miskin sehingga zakat bagi orang miskin tidak dibagikan.
Jelas sudah, bahwa sesungguhnya ada sesuatu dari Islam yang telah hilang. Sesuatu yang dengan sengaja dihilangkan oleh orang-orang yang tidak senang kepada Islam dengan segala daya dan upaya mereka. Sesuatu yang telah hilang inilah yang akhirnya menimbulkan ketakutan (phobia) yang luar biasa kaum muslimin terhadap Islam. Sesuatu yang telah hilang ini telah menjalarkan virus ketidakpercayaan dan ketakutan pengemban da’wah Islam untuk menyuarakan Islam yang mulia. Sesuatu yang telah hilang ini pun mengakibatkan pemuda-pemuda Islam akhirnya hidup kebanyakan tanpa tujuan yang jelas, mereka menjadi seorang ilmuwan tanpa agama dan menjadi ahli ibadah tanpa ilmu dunia, tertipu oleh paradigma berfikir yang diajukan oleh pemikir-pemikir yang benci kepada Islam: ingin dunia tinggalkan agama dan ingin agama tinggalkan dunia.
Sungguh upaya dan daya dari orang-orang dan kelompok-kelompok yang tidak senang dengan Islam telah menemui keberhasilan mereka. Mereka telah berhasil membuat kaum muslim berfikir bahwa agama Islam hanyalah ritual semata sehingga mereka bisa lega dari ketakutan mereka akan Islam kaaffah (ritual dan politis). Mereka telah berhasil membuat pandangan bahwa al-Qur’an dan as-Sunnah bukanlah satu-satunya sumber rujukan kaum muslim tetapi hanya pilihan saja sehingga mereka bisa menjual standar, aturan dan nilai-nilai rendah mereka kepada kaum muslim. Mereka telah berhasil membuat kaum muslim merasa takut, ketinggalan zaman ketika mempelajari Islam sehingga mereka dapat selamat dari ketakutan mereka yaitu bersatunya kaum muslim dengan Islam kaffah. Mereka berhasil membius kaum muslim dengan budaya dan keindahan semu dunia sehingga mereka bisa tetap memeras kekayaan kaum muslim. Mereka telah berhasil membuat kaum muslim terpecah belah dengan oknum-oknum hasil didikan mereka sehingga mereka bisa selamat dari kekuatan kaum muslimin yang bersatu. Mereka berhasil membuat persepsi bahwa pengemban Islam adalah menakutkan dan tidak profesional sehingga kaum muslim yang belum mengerti berpaling dari para pengemban da’wah Islam.
Sungguh rasulullah yang kita cintai telah bersabda dalam khutbah beliau yang terakhir (khutbah wada’) “Aku tinggalkan pada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang tehguh kepadanya, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Sesuatu tersebut ialah sesuatu yang jelas yaitu Kitabullah (al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya (as-Sunnah)” .
Inilah sesuatu yang hilang dari Islam. Islam layaknya sebuah sistem yang tidak akan dapat berfungsi secara normal bila salah satu komponennya tidak diterapkan, apalagi hanya satu komponennya yang diterapkan. Inilah yang terjadi dengan Islam, kaum muslimin saat ini kebanyakan hanya mengambil sebagian daripada seruan-seruan Allah tetapi tidak mengambil sebagian yang lain. Dengan kata lain, penerapan Islam secara tidak sempurnalah yang membuat kondisi kaum muslim menjadi terpuruk. Allah berfirman dalam kitabnya dalam hal-hal seperti ini:
Sebaliknya, penerapan Islam secara kaaffahlah yang membuat Islam menjadi satu-satunya ideologi yang disegani dan diperhitungkan di seluruh dunia. Ini dikarenakan karena Islam adalah agama sekaligus ideologi yang khas, yang mempunyai aturan di dalam semua aspek kehidupan, dan aturan itu bukanlah berasal dari manusia yang serba terbatas tetapi berasal dari zat mahasempurna dan maha mengetahui tentang ciptaan-Nya, Dialah Allah swt.
Untuk menerapkan Islam secara kaaffah pada masyarakat, kita pun perlu untuk mengubah pemikiran-pemikiran yang ada pada masyarakat, perasaan-perasaan yang diadopsi mereka dan tentu saja aturan-aturan yang diterapkan masyarakat untuk diubah menjadi berdasarkan Islam yang kaaffah.
Untuk menerapkan Islam secara kaaffah, maka perlu juga untuk membentuk aliansi-aliansi dan forum-forum yang didalamnya terdapat tokoh-tokoh yang berpengaruh di masyarakat, organisasi yang berpengaruh di masyarakat, dimana aliansi ini yang turut menjaga usaha penerapan Islam secara kaaffah, selain itu adanya pembentukan jaringan ini akan turut membantu usaha sosialisasi bahwa Islam memiliki solusi dalam setiap permasalahan manusia.
Dalam penerapannya sistem pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk tiga hal pada diri setiap individu muslim, yaitu terbentuknya kepribadian Islam (shakshiyyah Islamiyyah), penguasaan akan pengetahuan-pengetahuan Islam berkaitan dengan pemecahan masalah kehidupan (tsaqafah Islamiyyah) dan penguasaan ilmu sains dan teknologi. Dalam penguasaan ilmu sains dan teknologi, maka Islam memandang hal tersebut adalah wajib kifayah bagi seluruh kaum muslim, yang jika kaum muslim lalai untuk menguasai ilmu sains dan teknologi termutakhir, dosa karena kelalaian itu adalah pada seluruh kaum muslimin sama seperti ketika mereka melalaikan kewajiban yang lain. Oleh karena itulah, penguasaan ilmu dan teknologi oleh kaum muslimin ini harus difasilitasi dan didahulukan lebih daripada kegiatan-kegiatan lain yang tidaklah wajib.
Demikianlah seruan dari kami kepada setiap muslim yang selalu rindu akan kebenaran dan memperjuangkan kebenaran itu. Saudara-saudaraku yang mulia, ini bukanlah langkah puncak kita, tetapi ini hanyalah langkah awal kita dalam memperjuangkan satu-satunya kebenaran yaitu Islam. Kami mengajak semua pemuda untuk berdiri, bersatu padu dan memperjuangkan satu-satunya yang layak untuk diperjuangkan yaitu Islam, untuk membenarkan perkataan rasul-Nya dan untuk menyambut seruan Allah swt. Dimana jika Islam diterapkan atas izin Allah, Allah akan memberikan berkah dari langit dan bumi serta mencarikan kita jalan keluar dari arah yang tidak kita duga-duga. Dan yang terpenting, kita akan termasuk barisan orang-orang mukmin yang memperjuangkan agama-Nya, yang telah disediakan oleh-Nya bayaran dan balasan yang tidak bisa disamai dengan apapun yang dapat diindera oleh manusia.
Lemah Lembut itu Kekuatan Nan Perkasa
YAKIN
Segala Puji hanya milik Dzat yang Maha Mulia, yang ditanganNya tergenggam nyawa-nyawa seluruh mahluk semesta alam..yang Maha Kekal sebelum segala sesuatunya ada, dan akan tetap Kekal setelah segala sesuatunya tiada.Kita memuji, memohon pertolongan dan meminta ampunanNya.Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan dan keburukan amal perbuatan kita.
Shalawat dan Salam kepada Baginda Rasulullah SAW, Kekasih Allah juga para ahlul bait dan para sahabat2 beliau yang kita sebagai ummatnya, saudara seIman mereka di masa sekarang ini belum pernah melihatnya tapi tetap merasakan kehadirannya dan senantiasa merindukan perjumpaan dengannya.
Saudaraku Seiman, Tujuan Allah SWT hantar kita dibumi ini semata-mata hanya untuk beribadah dan membetulkan "Yakin" kita, "Iman" kita kepadaNya. Bahkan ulama kita sampaikan jika haji kita tidak betul maka Insya Allah akan diganti dengan umrah, jika zakat kita tidak betul maka akan diganti dengan sedekah, jika puasa (Wajib) kita tidak betul maka akan diganti dengan puasa-puasa Sunnah, jika sholat (Wajib) kita tidak betul maka akan diganti dengan sholat sunnah tapi kemanakah akan diganti jika "Yakin" atau "Iman" kita kepada Allah Rusak?
Seorang bayi yang baru lahir, merasa tidak punya kekuatan apa-apa, merasa sangat lemah bahkan hanya satu bahasa yang ia ketahui hanya menangis ketika ia berhajat sesuatu, tidak bicara banyak hanya menangis saja menunjukkan kelemahan dan ketidakberdayaannya maka ibunyapun menyelesaikan seluruh masalahnya.
Sang bayi yakin ibunya tahu akan permaslahannya dan juga tahu akan jalan keluar dari permasalahannya.
Seorang anak yang diajak ke pasar oleh ibunyapun tidak segan2 ketika menginginkan benda-benda yang ia sukai, karena yakin akan ibunya yang ikut bersamanya maka sang anakpun tinggal tunjuk benda-benda yang ia sukai maka ibunyapun menyelesaikan semua permasalahnya.
Ulama kita sampaikan andaikan hubungan kita kepada Allah seperti halnya hubungan sang bayi kepada ibunya ini maka tidak akan ada masalah yang tidak selesai. Semua permasalahan akan selesai dengan waktu yang singkat.
Akan tetapi ketika sang bayi ini besar, sudah merasa punya kekuatan, sudah yakin dengan dirinya sendiri, sudah yakin akan asbab pekerjaannya maka lama kelamaan ia pun lupa lagi dengan menangis. lupa akan darimana asal dia sebenarnya.
Beginilah "Iman" kita hari ini, ketika kita punya masalah maka kita "Yakin" permasalahan kita akan selesai dengan kekuatan kita, dengan asbab pekerjaan kita dan segala sesuatu selain Allah, sudah lupa dengan yang namanya menangis minta pertolongan Allah. Maka masalahpun tidak kunjung selesai bahkan mungkin malah semakin parah dari hari kehari.
"Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan"
An Naml :62
Dari Abu Al ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu anhu, ia berkata : Pada suatu hari saya pernah berada di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,
beliau bersabda : "Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat : Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah."
"Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan untuk dirimu."
"Sekiranya mereka pun berkumpul untuk melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Segenap pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering."
(HR. Tirmidzi, ia telah berkata : Hadits ini hasan, pada lafazh lain hasan shahih.)
Rasulullah SAW memberikan nasehat beliau bahwa tidak akan menimpa sesuatu kepada seorang hamba ataupun mahluk jika hal tersebut tidak dalam genggaman Allah SWT.
Ketika seorang hamba sudah merasa "Yakin" akan dirinya sendiri, "Yakin" akan perdagangannya, "Yakin" akan pertaniannya, "Yakin" akan ilmunya maka Allah tidak akan memberikan NusrahNya (Pertolongan) bahkan Allah akan melaknat dan menghancurkan mereka.
"Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ´Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah?. Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." At Taubah :70
Permasalahan yang dialami manusia hari ini adalah permasalahan "Iman" yang tidak betul, "Yakin" yang tidak betul kepad Allah, maka kehidupanpun terasa susah dan segala sesuatu yang dijalani akan terasa sempit.
" Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-KU, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan kami akan mengumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan buta ". (QS Thaha : 124).
Saudaraku seiman pada hakekatnya kita ini dalam sebuah perjalanan yang pasti dan pasti akan berakhir, dan akan menuju ke terminal selanjutnya dimana seorang yang berbahagia maka ia akan beruntung selama-lamanya dan orang yang menderita maka ia akan celaka selama-lamanya.
Seorang yang hendak bepergianpun dari satu kota ke kota lainnya maka pasti dan pasti ia akan menyiapkan bekal sebanyak dan secukup mungkin untuk persiapan dalam perjalanan yang akan ia tempuh. Maka suatu kebodohan apabila kita yang cepat atau lambat akan mati ini tidak mempersiapkan bekal sebanyak mungkin untuk suatu perjalanan yang sangat panjang dimana segala sesuatunya akan diminta akan pertanggungjawabannya.
Semoga Allah SWT mengekalkan hidayah dalam diri kita hingga nafas terakhir yang kita hembuskan, semoga Allah menggunakan kita untuk perjuangan AgamaNya dan menjadikan kita asbab tersebarnya hidayah ke seluruh alam.
Akhy Fillah sudah lama sejak pesan terakhir yang ana kirimkan, ana memohon maaf sebesar-besarnya (Afwan Jiddan) karena kesibukan ana jadi pesan yang seperti biasanya ana kirimkan tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Buat Ihwa dan Akhwat seiman yg Insya Allah dicintai dan diRidhoi Allah SWT....untuk lebih banyaknya saudara2 qt yg menerima pesan da'wah ini mohon untuk mungundang teman2nya yang lain untuk dapat bergabung di Group "Iman dan Islam" ini..
Ada benarnya datangnya dari Allah dan adapun kesalahan dalam artikel ini dikarenakan kebodohan dan kekurangan ilmu saya sendiri.
..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa'atubu Ilaik Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
Gunawan Arief
Bagaimana Khilafah Diruntuhkan?
Hak Istri atas Suaminya (Kewajiban Suami terhadap Istrinya)
“Rasulullah saw ditanya : “Siapakah orang mukmin yang paling sempurna imannya ?” Beliau bersabda : “Mereka yang paling baik akhlaknya kepada keluarganya.”
Dari Umar ra dari Nabi saw bahwasanya beliau bersabda :
“Masing-masing dari kamu semua adalah pemimpin, dan masing-masing dari kamu semua akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang imam (penguasa) yang diikuti oleh orang banyak adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang laki-laki (suami) adalah pemimpin atas penghuni rumahnya dan ia akan ditanya tentang kepemimpinannya terhadap mereka. Seorang hamba adalah pemimpin dalam harta tuannya dan ia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang istri adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan ia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Ingatlah, masing-masing dari kamu adalah pemimpin dan masing-masing dari kamu akan ditanya tentang kepemimpinannya.”
Dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah saw, bahwasanya beliau bersabda :
“Barangsiapa yang mengawini seorang perempuan dengan maskawin yang telah ditentukan, sedangkan ia berniat untuk tidak memenuhinya, maka ia berbuat zina, dan barangsiapa yang mempunyai hutang sedangkan ia berniat untuk tidak mengembalikannya, maka ia adalah pencuri.”
Dari Al Hasan Bashri dari Nabi saw :
“Berpesan-pesanlah yang baik dengan para istri, karena sesungguhnya mereka tidak memiliki sesuatu apapun atas diri mereka sendiri di sisimu, dan sesungguhnya kamu mengambil mereka dengan amanah Allah dan kamu menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimah Allah Swt.”
Hak istri yang harus dilakukan oleh suaminya itu ada lima , yaitu :
1. Suami harus mengerjakannya di balik tabir (di dalam rumah) dan tidak membiarkan istrinya keluar karena istri itu merupakan aurat, dan keluarnya di hadapan orang banyak menyebabkan dosa dan merusak kesopanan.
2. Suami harus mengajarinya ilmu pengetahuan yang wajib diketahui istrinya seperti cara berwudhu, shalat dan puasa.
3. Harus memberinya makanan yang halal karena daging yang tumbuh dari makanan yang haram itu akan cair dengan api neraka.
4. Tidak boleh menganiayanya karena istri merupakan amanah baginya.
5. Apabila timbul perasaan yang tidak baik, hendaklah sabar dan anggaplah sebagai peringatan baginya, jangan sampai terjadi yang lebih bahaya daripada apa yang telah terjadi.
Diceritakan bahwa ada seseorang datang kepada Umar bin Al Khaththab ra untuk mengadukan keadaan istrinya. Ketika ia sampai di pintu rumah Umar, ia mendengar Ummu Kaltsum istri Umar sedang ribut dengan Umar. Orang itu lalu berkata : “Saya ingin mengadukan tentang kelancangan istriku terhadap aku, akan tetapi aku melihat Umar juga mengalami hal yang sama.” Kemudian ia kembali, akan tetapi Umar ra memanggilnya dan menanyakan apa maksud kedatangannya. Orang itu berkata : “Sebenarnya saya ingin mengadukan kepadamu tentang keadaan istriku, akan tetapi karena saya mendengar hal serupa dalam rumah tanggamu, maka saya kembali.”
Umar ra berkata : “Kita harus memaafkannya karena ia mempunyai beberapa hak yang harus kita laksanakan terhadapnya. Pertama, ia merupakan penghalang bagiku dari api neraka, di mana hatiku merasa tenteram dan jauh dari hal yang haram. Kedua, ia menjadi penjaga rumah ketika aku pergi dan ia pula yang menjaga hartaku. Ketiga, ia menjadi tukang cuci pakaianku. Keempat, ia menjadi ibu bagi anak-anakku. Kelima, ia menjadi tukang masak makananku.” Orang itu lalu berkata : “Istriku juga begitu, maka apa yang engkau maafkan atasnya, saya juga memaafkannya.”
Anas bin Malik ra meriwayatkan dari Nabi saw, bahwasanya beliau bersabda :
“Ada empat jenis nafkah (belanja) yang nanti pada hari kiamat seseorang tidak akan dihisab dengannya, yaitu : nafkah untuk kedua orang tuanya, nafkah untuk buka puasanya, nafkah untuk makan sahurnya dan nafkah untuk keluarganya.”
“Dinar itu ada empat macam, yaitu : dinar yang kamu nafkahkan pada jalan Allah Swt, dinar yang kamu berikan kepada orang-orang miskin, dinar yang kamu belanjakan untuk memerdekakan budak, dan dinar yang dinafkahkan untuk keluargamu. Yang paling banyak pahalanya adalah dinar yang kamu belanjakan untuk keluargamu.”